Pembangunan Gereja Paroki Tigalingga

Pembangunan Gereja Paroki sedang berlangsung. Kami sangat mengarapkan uluran kasih para Saudara untuk membantu.

Gotong Royong Pembangunan Gereja

Tidak ada kata yang bisa melukiskan pengalaman indah pada waktu gotong royong pengecoran lantai 2 bangunan Gereja selain, suatu keyakinan bahwa semuanya dapat terlaksana adalah karena MUKJIJZAT ALLAH BEKERJA.

Pengecoran Lantai Panti Imam Gereja

Pengecoran Lantai 2 bangunan Gereja ini dilakukan pada hari Selasa, 30 Agustus 2011 yang lalu. Luas yang dicor adalah 19 m x 24 m. Hujan yang mengguyur tidak menyurutkan semangat umat.

Kerjasama Imam dan Umat

Uskup emeritus KAM, Mgr. A.G.Pius Datubara OFM.Cap, datang berkunjung ke Paroki dan memberi semangat pada umat dalam pembangunan Gereja Paroki. Para pastor juga ikut berkerja bersama umat dalam pembangunan Gereja.

Misa Tridentin: Warisan Liturgi Yang Dipertahankan

HIDUPKATOLIK.com - Paus Benediktus XVI mengeluarkan Surat Apostolik Summorum Pontificum yang menjamin penggunaan Misa Tridentin...

Pembinaan Para Pengurus Gereja

Tidak sedikit umat katolik yang kerap menganggap bahwa Liturgi adalah sekedar perayaan wajib biasa yang dilaksanakan pada hari minggu.

Pertemuan Ibu-Ibu dan Pesta Pelindung Paroki

Pertemuan para ibu se-paroki telah terlaksana pada hari Kamis-Sabtu, 15 s/d 16 Juli 2011. Pertemuan ini mengundang semua ibu katolik yang ada di paroki untuk hadir dalam pertemuan/pembinaan para ibu katolik dan juga segaligus menjalin kebersamaan para ibu. Penutupan pertemuan sikaligus Pesta Pelindung Paroki.

Pembinaan Asmika se-Paroki

Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku; inilah yang menjadi tema dari pertemuan dan pembinaan minggu gembira yang telah berlangsung dengan sangat baik.

Mudika Ambil bagian dalam pembangunan Gereja Paroki

Mudika paroki tidak mau berpangku tangan melihat pembangunan Gereja paroki. Para mudika juga ambil bagian dengan mengumpulkan kerikil di sungai.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 1)

Umat dari lingkungan paroki dan juga dari beberapa stasi kembali bekerja sama dengan bergotong royong membangun gereja paroki. Untuk kali ini, umat bergotong royong men-cor lantai balkon bangunan Gereja.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 2)

Allah peduli. Karena kepedulian Allah atas pembangunan rumah-Nya ini, maka kami kamipun peduli dan bisa melanjutkan pembangunanini. Kepedulian Allah kami rasakan juga lewat kepedulian para Saudara.

Pengecoran Lantai Balkon Gereja (Bagian 3)

Mari kita memuliakan Tuhan, tidak hanya dengan kata2 indah, tetapi dengan perbuatan nyata dengan rela berkorban.

Pertemuan akhir Tahun 2011 Pengurus Gereja se-Paroki

Para pengurus Gereja adalah ‘ujung tombak’ Gereja khususnya di stasi-stasi. Peran para pengurus Gereja ini sangat sentral dalam kehidupan Gereja di stasi-stasi.

Gua Maria dan Menyambut Hari Raya Natal

Persiapan menyambut hari Raya Natal 25 Desember 2011.

Rahmat dan Perlindungan Tuhan

Pastor Anton Manik O.Carm selamat dari kecelakaan mobil masuk jurang.

Rekoleksi dan Aksi Panggilan

Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku.

Pesan Prapaskah Kepausan 2012

"Kita Tidak Boleh Diam Saja terhadap Kejahatan" "Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik" (Ibr. 10:24).

Pembangunan Gereja Santo Petrus Stasi Rante Besi

Dalam kemiskinan, kesederhanaan, umat membangunan Gereja. Meraka tidak memiliki uang, tetapi mereka memiliki harapan dan iman pada Tuhan.

Misa Perdana Pastor Andreas Korsini Lamtarida Simbolong O.Carm

Puji Syukur pada Tuhan, karena berkat-Nya, misa Perdana Pastor Andreas Lamtarida Simbolon O.Carm bersama 4 Pastor Karmel yang baru ditahbiskan, dapat terlaksana dengan baik pada hari Rabu 31 Oktober 2012 di Stasi Gundaling 1, paroki Maria dari gunung Karmel Tigalingga.

Bakti Sosial : Pengobatan Gratis

Dalam Rangka Menyongsong Jubileum Gereja Katolik di Dairi dan Pakpak Bharat, diadakan bakti Sosial Pengobatan Gratis di Paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga, pada 9 Desember 2012 yg lalu. Puji syukur pada Tuhan, kegiatan ini berlangsung dengan sangat memuaskan.

Mari Berbagi Berkat Tuhan

 photo UskupEmeritusKAMMgrPiusDautabra.jpg Photobucket

MENDAMBAKAN BERKAT TUHAN

SYALOM...SELAMAT DATANG.
"Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan."(2Kor 8:14)
"Muliakanlah Tuhan dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu." (Amsal 3:9)
"Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya." (Amsal 3:27)
"Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?" (1 Yohanes 3:17)
Saya Pastor Paroki Maria dari Gunung Karmel Tigalingga, atas nama Panitia Pembangunan dan semua umat, memohon bantuan uluran kasih/dana untuk pembangunan Gereja Paroki. Kami sangat membutuhkan berkat Tuhan lewat uluran tangan dari para donatur.
Kami berharap dan berdoa Para Saudara berkenan berbagi berkat Tuhan kepada kami untuk pembangunan Gereja ini yang adalah rumah Tuhan sendiri.
BRI 5379 Unit Tigalingga Sidikalang
No. Rekening : 5379-01-000112-50-8
Nama : PANITIA PEMBANGUNAN GEREJA KATOLIK.
ATAU
BCA KCU MEDAN
NO.0222053453.
Atas Nama : ADYTIA PERMANA P.
(Adytia Permana P. adalah Romo Adytia Permana Perangin-angin O.Carm. Beliau dulu bertugas di Paroki Tigalingga, juga mengawali pembangunan ini, namun sekarang beliau bertugas di Keuskupan Agung Medan sebagai ekonom.Beliau kami minta buka rekening di BCA khusus untuk pembangunan ini, karena di daerah kami tidak ada BCA.)
Kami sangat senang bila sudah mentransfer persembahan, bapak/ibu/saudara/saudari memberitahukan ke kami melalui:
E mail ke :.
parokimariagk3lingga@yahoo.com
atau di SMS ke:.
Romo Anton Manik O.Carm : 081370836645
Romo Willy O.Carm : 081333837433
Untuk lebih jelasnya permohnan kami ini, Para Saudara dapat melihatnya di sini.... Sehubungan dengan Gambar pembangunan dapat melihatnya di sini....
Demikian kiranya Permohonan ini kami sampaikan. Atas dukungan, doa dan bantuan Bapak, Ibu dan Para Saudara-Saudari, kami mengucapkan banyak terima kasih.Berkat Tuhan senantiasa menyertai kita semua. Amin.
HORMAT KAMI:
Pastor Antonius Manik O.Carm

VARIA PAROKI

REKOLEKSI DAN AKSI PANGGILAN TELAH TERLAKSANA DENGAN SANGAT BAIK ;"> "APA YANG KAMU CARI?" (Yoh 1:38).
Puji syukur pada Tuhan, karena Rekoleksi dan Aksi panggilan untuk siswa-siswi Katolik Usia SMP dan SMA se-paroki Tigalingga sudah terlaksana dengan sangat baik. Kegiatan ini dihadiri hampir 400 orang anak. Semuanya dapat terlaksana hanya karena berkat Tuhan. Terimakasih juga kami sampaikan kepada semua Saudara yang telah mendukung dan mendoakan kegaitan kami ini. Kegiatan ini dilaksanakan hanya dengan menggunakan dana partisipasi peserta dan swadaya paroki, karena tidak mendapatkan bantuan dari donatur manapun, namun karena berkat Tuhan dan doa para Saudara, semuanya dapat berjalan dengan sangat baik. Semoga dari antara anak-anak ini, kelak ada yang menjadi Imam dan biarawan-biarawati.
Photobucket
Tuhan memberkati kita.
Kegembiraan dan Persaudaraan
Photobucket
Hari Ulang tahun Romo Anton M.Carm yang seharusnya tanggal 15 Januari 2010, baru dirayakan hari Minggu Minggu 16 Januari 2011 lalu, bersama Romo-romo Karmel se-Dairi, bersama beberapa umat Paroki Tigalingga di Aula Paroki Tigalingga. Pada kesempatan itu, Rm. Bernad O.Carm, pastor paroki Sidikalang memberi kado ulang tahun yakni 20 sak semen untuk pembangunan Gereja dan Rm. Anton sendiri menyumbangkan semua hadiah ultah untuk pembangunan Gereja. Saat itu, hadiah uang yang diperoleh sebanyak Rp. 1.100.000,-. Lumayanlah untuk tambahan dana pembangunan Gereja. Trimakasih buat semuanya.
Saldo Pesta Pelantikan Pengurus Gereja dan Penerimaan Sakramen Krisma, 6-7 Nop. 2010.
Pada hari Kamis 18 Nopember 2010 telah diadakan Evaluasi dan pembubaran Panitia. Saldo dari kegiatan tersebut adalah Rp. 22.320.500 Acara ini dapat berjalan dengan baik karena partisipasi semua umat. Dana juga bisa Saldo karena umat menyumbangkan hasil-hasil pertanian mereka dengan harapan ada Saldo untuk pembangunan Gereja Paroki.Jadi selain dana partisipasi dari umat, juga umat menyumbangkan hasil pertanian yang dibutuhkan untuk mengurangi dana konsumsi. Syukur pada Tuhan, akhirnya memang ada saldo untuk dana pembangunan Gereja. Terimakasih kami ucapkan kepada semua umat Paroki, DPP, Para Panitia, Para Donatur dan siapa saja yang mendoakan dan mendukung kegitan ini. Yesus memberkati kita semua selalu. Amin.
Showing posts with label Artikel Umum. Show all posts
Showing posts with label Artikel Umum. Show all posts

MUI: Tolak budaya Valentine

MUI: Tolak budaya Valentine 

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan budaya hari kasih sayang atau `Valentine` yang jatuh setiap 14 Februari tidak ada dalam ajaran Islam. “Budaya `Valentine` juga bukan budaya kita sebagai bangsa Indonesia. Budaya `Valentine` adalah budaya yang menjunjung tinggi pergaulan bebas dan tidak sesuai dengan budaya bangsa dan ajaran agama Islam,” ujar Ketua MUI Bidang Pendidikan, Anwar Abbas, di Jakarta, Kamis (12/2). Oleh karena itu, kata dia, hendaknya generasi muda yang beragama dan berbudaya, menjauhi dan menolak budaya tersebut. “Budaya hari kasih sayang ini akan merusak akhlak dan moral generasi muda,” jelas dia. Peringatan “Valentine” identik dengan pemberian coklat. 

Namun, “Valentine” juga identik dengan kencan dan seks bebas. Di beberapa daerah, beredar paket coklat beserta kondom yang dijual di toko serba ada. “MUI mengkhawatirkan tujuan paket coklat dengan kondom akan menjerumuskan generasi muda dalam zinah,” lanjutnya. Menurut Anwar, kasih sayang sesama manusia tidak hanya dilakukan selama satu hari saja, tetapi setiap saat. “Tidak perlu ikut-ikutan `Valentine`. Itu bukan budaya kita, itu budaya Barat,” ujar dia. Sejumlah daerah di Indonesia baik dari pihak ulama maupun pemerintah mendesak orang muda tidak merayakan Valentine. 

Aceh haramkan perayaan Valentine Pemerintah Kota Banda Aceh mengharamkan perayaan Valentine. Sosialisasi dilakukan ke sekolah-sekolah mulai pada 12 Februari 2015. Seruan larangan merayakan Hari Kasih Sayang dalam bentuk apa pun bagi kalangan muda-mudi dikeluarkan oleh Walikota Banda Aceh, Illiza Saaduddin Djamal. “Kepada generasi muda dan semua masyarakat Muslim Kota Banda Aceh agar tidak merayakan valentine’s day dalam bentuk apa pun, karena bertentangan dengan syariat Islam,” ujar Illiza, Kamis, 12 Februari 2015. 

Kepala Humas Pemerintah Kota Banda Aceh Marwan menuturkan seruan yang dikeluarkan itu merupakan bentuk kepedulian serta komitmen pelaksanaan dan penegakan syariat Islam secara kafah di Kota Banda Aceh. “Juga untuk antisipasi agar tidak ada perayaan Valentine di Banda Aceh,” ujarnya. 

(Antara/tempo.co/satuharapan.com)
Disadur dari: indonesia.ucanews.com

Salah kaprah: Mengusik akal sehat kita?

Salah kaprah: Mengusik akal sehat kita?

Romo FX Mudji Sutrisno SJ AKAL sehat adalah terjemahan kontekstual dari common sense. Harfiahnya menunjuk pada arti pemahaman biasa yang dibuat oleh akal sehat orang kebanyakan tanpa banyak-banyak berpikir rumit-rumit atau berenung-renung sulit. 

Semisal tanda alam langit berawan, akal sehat biasa ”menyimpulkan” akan hujan sebentar lagi. Apalagi bila angin dingin berair sudah bertiup dan kencang angin mulai memberat, common sense orang akan mengatakan sebentar lagi hujan. Geertz menaruh akal sehat ini sebagai tingkatan pemahaman sederhana sebelum diangkat ke refleksi logis sistematis terukur dan terverifikasi d
alam ilmu pengetahuan. Tulisan ini cukup mengartikan akal sehat sebagai pemahaman biasa sederhana budi. 

Akal sehat mulai diusik manakala pemahaman biasa akal budi diganggu oleh ketidaksesuaian antara logika (jalan pikiran) maknanya dan konsensus bersama proses memahami sebagai ”benar” logis yang ada. Akal sehat akan diganggu tatkala hukum logis nalar sebab-akibat dicederai lantaran keduanya tidak sekuensial atau tak bersambung. Lebih diusik lagi akal sehat biasa apabila proses diskursus (baca: berwacana) tiba-tiba disalahkaprahkan karena proses itu seharusnya dibuat sebelumnya (prafakta/praperistiwa), tetapi dilakukan post factum (sesudah peristiwa atau fakta). 

Contoh fenomena salah kaprah yang mengusik akal sehat saat ini adalah wacana makna atau proses ”koalisi”. Koalisi seharusnya dalam bingkai diskursus demokratis dibuat oleh partai-partai politik sebelum pemilu untuk tujuan berdialog mendapatkan kesamaan visi dan tujuan yang diemban demi kesejahteraan rakyat dari partai-partai lalu dirundingkan demi efektifnya pemerintahan untuk multipartai dalam parlemen agar pemerintah yang terbentuk bisa kuat dan efektif demi mencapai tujuan bernegara yaitu suara rakyat yang ingin keadilan, kesejahteraan, kedamaian, dan bisa cari nafkah yang cukup. 

 Jadi tidak untuk kuat pemerintahan demi dirinya sendiri atau demi kuasa dan pencapaian ambisi politik partainya apalagi demi bagi-bagi lahan kursi untuk berkuasanya partai yang tidak menaruh suara rakyat yang memilihnya untuk diwujudkan dalam tata masyarakat adil sejahtera. Salah kaprah wacana dan tindakan berkoalisi pasca-pemilu legislatif itulah yang dipersepsi dalam pemahaman salah sebagai bagi-bagi kuasa dan terus digulirkan tanpa menoleh sedikit pun dan sebentar pun pada pertanyaan mendasar tujuan pemilu oleh rakyat yang memilih. 

Karena salah kaprah ”palsu” dan tidak otentiklah arti koalisi yang sebenar-benarnya hanya berupa runding-runding cari kepentingan dan keuntungan politis demi keuntungannya partai politik. Karena itu, yang benar saat ini adalah temu untuk kerja sama! Karena salah kaprahnya makna koalisi, lihatlah, muncul dualisme wacana antara yang terbuka disantunkan sebagai pendekatan silaturahmi dan ”yang tertutup” berisi perundingan siapa calon wapres dan capres nanti. 

Lihatlah pula struktur pertemuan yang muncul keluar penandapenanda dualisme ambiguitas ini: pertemuan tertutup lalu disusul konferensi pers terbuka yang untuk akal sehat biasa tetap misterius terselubung isi sebenarnya. Sedang untuk akal budi yang kritis akan menggugat tanya: apa beda upacara temu kangen biasa dan silaturahmi tutup terselubung ”koalisi”? 

Akal sehat kita kembali diusik oleh fenomena tidak logis dalam penentuan kebijakan penghematan BBM, namun diizinkan terus diproduksinya mobil murah. Ketika devisa hemat BBM jebol, lalu debat tidak setujunya mereka yang tahu ada keanehan logika mengatasi macet lalu lintas, namun mobil ditambahi terus tetap tidak ”berani diangkat”. Yang diambil solusinya lebih mengusik akal sehat lagi karena yang akan diganti adalah ukuran corong pipa bahan minyak dipompa-pompa bensin antara yang BBM subsidi dan yang tidak. 

Akal sehat teraniaya lalu bertanya kritis tajam: bukankah manusianya yang menentukan kebijakan dan bukan ”saluran pipa bensin”. Tidakkah bila orangnya tidak mengelupas budinya yang salah kaprah antara mana sarana dan mana tujuan; mana esensi dan mana yang substansial, di sini terjadi pelecehan akal sehat kita semua. 

Mengapa? Karena kita dianggap tidak bisa berpikir sehat dengan common sense sehat bahwa kebijakan yang sudah diikat kepentingan kalkulasi untung rugi uang dan kepentingan bukan sejahteranya orang banyak, di sanalah logika uang dan hasrat cari untung dan memenangkan bisnis modal besar akan ”membuat rabun” akal sehat manusia. 

Jalan pikiran akal sehat berdasar pada logika sebabakibat. Ada asap pasti ada api. Ada buah baik tentu dari pohon yang baik. Ada akibat pecah belah kerukunan atau saling memaki halus atau melalui selubung santun puitis pastilah berasal dari sebab yang antisaling hormat dan antisaling menghargai. Inilah fenomena berikutnya yang mengusik akal sehat karena merasa baik, benar, dan berjuang untuk bangsa, namun hasil ucapan, laku tindakannya ”memecah belah” entah dengan memecah organisasinya atau menerjang anggaran dasar aturan kesepakatan. 

Akal sehat akan melanjutkan renung prediktif ke depan: belum menjadi pemimpin besar bangsa majemuk kok sudah main otoritas alias otoriter. Mestinya akan jadi pemimpin pemersatu keragaman kok laku tindakannya membuat resah dan pecah. Logika akal sehat akan menggugat: bisakah buah yang buruk berasal dari pohon baik? 

Dalam pokok ini akal sehat biasa akan dilukai dan dicederai manakala politik yang mestinya usaha perjuangan untuk Indonesia lebih baik, lebih sejahtera, lebih adil dan hormati kemajemukan suku, religi penyusun satunya Indonesia akan ”merintih luka” bila soal agama, beda ras, dan suku mulai dipakai untuk pemilu calon presiden. Jadi bisa ditarik garis kesimpulan untuk mengukur kerja-kerja akal sehat kita yaitu lihatlah buah-buah ucapan ”serang politik pada lawan!”. 

Dari sanalah bisa diukur calon pemimpin sejati kita apakah ia ambisi untuk kekuasaan dengan segala cara dihalalkan mencapai kursi nomor satu atau kursi-kursi lain ataukah ia menaruh telinga, hati dan nuraninya di jantung sejati rakyat banyak dengan tulus kerja nyata dan bukan pidato citra. 

 Rakyat banyak sudah amat cerdas membaca dan memahami dengan hati tulusnya, mana yang integritasnya jujur dan mana yang kelam mendung tanggung jawabnya dalam menyikapi korban dan anak bangsa yang menanti perubahan perbaikan nasib hidupnya. 

Padahal tanah airnya yang kaya mineral dan limpah kesuburan, tetapi selamanya mereka menjadi buruh di tanah yang bukan miliknya sendiri. Apalagi di air lautan yang sudah dikapling-kapling pemilikannya bukan oleh bangsa bahari Nusantara. 

MUDJI SUTRISNO SJ Guru Besar STF Driyarkara Dosen Pascasarjana Universitas Indonesia Budayawan Artikel ini telah diterbitkan di sindonews.com pada 9 Mei 2014.

Disadur dari: indonesia.ucanews.com

Berbagi berita: Moderasi Islam dinilai bisa redakan konflik

Moderasi Islam dinilai bisa redakan konflik

Saat ini ada kecenderungan sebagian umat Islam menggunakan kekerasan. Kecenderungan itu bukan hanya diterapkan kepada umat Islam, tetapi juga umat lainnya. Oleh karena itu, Indonesia harus bisa kembali pada nilai-nilai Pancasila yang telah menjadi ideologi negara. 

“Saya ajak orang-orang yang berlabel Islam, tapi nyatanya melakukan tindakan kekerasan, untuk kembali lagi kepada ajaran Islam, yang menghormati agama lain,” kata Duta Besar Mesir untuk Indonesia Ahmed El Kewaisny, di sela-sela Multaqa Nasional II dan Seminar Internasional tentang Moderasi Islam, belum lama ini seperti dilansir sinarharapan.com. Seminar ini diadakan oleh alumni Universitas Al Azhar, Kairo. 

 Menurut Menteri Agama Suryadharma Ali, Indonesia sebenarnya bisa menunjukkan kerukunan agama yang bagus. Salah satu contohnya adalah pelaksanaan MTQ di Kota Ambon dan Pesprawi di Sulawesi Tenggara (Sulteng). MTQ di Ambon sangat didukung kalangan nonmuslim. Begitu juga sebaliknya, Pesprawi mendapatkan dukungan dari muslim. Hampir 90 persen panitia Pesprawi adalah muslim. “Cuma kita sering dikapitalisasi oleh hal-hal kecil,” katanya. Meski demikian, ia mengakui, saat ini dakwah tidak memperhatikan kondisi sosial dan budaya, sehingga berujung pada kekerasan dan konflik. Padahal, tindakan seperti ini bertentangan dengan UUD 1945 yang menjamin kebebasan beragama dan beribadah sesuai dengan agama masing-masing. 

 Dia menambahkan, ada dua tantangan besar Islam Indonesia. Tantangan itu adalah kecenderungan kelompok yang makin ekstrem, yang menganggap dirinya paling benar dan sering menyalahkan pihak lain. Di sisi lain, ada juga kecenderungan umat Islam yang makin longgar dan makin tunduk pada budaya barat, sehingga nilai-nilai Islam terkubur. “Dalam konteks inilah pentingnya pembahasan sekaligus pemahaman dan praktik moderasi Islam agar posisi umat Islam tetap berada di tengah atau moderat,” katanya. Sementara itu, alumnus Al Azhar Zainul Majdi menambahkan, umat Islam harus lebih banyak menerapkan konsep dan pemahaman Islam yang moderat. Ajaran itu tidak hanya menghargai aliran lain di dalam Islam, tetapi juga umat beragama lain. “Jadi, jika pemahaman Islam yang moderat atau lebih sering disebut moderasi Islam, gesekan maupun konflik tidak akan terjadi. Karena itu, konsep Islam yang moderat harus lebih kokoh menghujam di bumi Indonesia,” kata Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) itu. 

Menurutnya, kokohnya pemahaman moderasi Islam akan berimbas pada perilaku umat yang menjunjung tinggi perbedaan dan toleransi. Hasil penelitian alumni Al Azhar yang tersebar di seluruh Tanah Air, menemukan fakta, masalah terkait pemahaman dan implementasi Islam yang kurang moderat, menyebabkan munculnya benih-benih konflik. Karena itu, alumni Al Azhar menegaskan perlunya pemahaman dan implementasi lebih jauh mengenai moderasi Islam. Ditanya soal langkah untuk meredakan konflik bernuansa agama, dia berpendapat para ulama dan tokoh masyarakat supaya lebih sering menyuarakan pentingnya moderasi Islam dan mengeliminasi paham-paham kebebasan tanpa batas, klaim paling benar dan fitnah serta menyalahkan pihak lain. Pandangan yang sama disampaikan Wakil Mufti Besar Mesir, Prof Mohammad Anwar Salabi dan Wakil Rektor Universitas Al Azhar, Prof Hasan Awad. Mereka menegaskan moderasi Islam perlu lebih diterapkan di Indonesia, mengingat negara ini terdiri atas berbagai suku, agama, dan ras.
Disadur dari: indonesia.ucanews.com

PERAYAAN YUBILEUM 75TAHUN GEREJA KATOLIK di SAMOSIR

PERAYAAN YUBILEUM 75TAHUN GEREJA KATOLIK di SAMOSIR
Refleksi atas Kehadiran dan Fungsi Agama

Perayaan Yubileum 75 tahun Gereja Kqtolik di Samosir merupakan perayaan syukur atas hadirnya Gereja Katolik di daerah ini. Dalam usia 75 tahun(1936-2011) Gereja telah ikut berpartisipas i untuk membangun iman, moral, dan kemanusiaan masyarakat Samosir. Gereja Katolik termasuk salah satu pioneer dalam membuka dan memajukan pendidikan dan kesehatan masyarakal Samosir. Gereja juga ikutserta berperan dalam pembangunan ekonomi masyarakat lewat Credit Union (CU) dan kelompok-kelompok tani.

GerejaKatolik di Samosir terdiri dari empat paroki, yaitu Paroki Santo Fransiskus Asisi Palipi, Paroki Santo Paulus Onan Runggu, Paroki Santo Mikael Pangururan, dan Paroki Santo Antonio Maria Claret Tomok-Simanindo. Jumlah umahrya sekarang ini 51.792 jiwa dan itu sama dengan40,56% dari jumlah pemeluk agama di Kabupaten Samosir (BPS 2010).

Dinamika Kehidupan Gereja Katolik Samosir

Bukan seperti biasanya penyebaran agama, di mana misionaris menyebarkan agamanya ke daerah yang belum beragama. Hadirnya Gereja Katolik di Tanah Batak - termasuk di Pulau Samosir - diprakarsai oleh orang Batak sendiri. Mereka datang kepada Mgr. Brans di Padang pada tahun l922-1923 meminta supaya Gereja Katolik bermisi diTanah Batak.

Namun ada kesulitan Misi Katolik untuk masuk ke daerah Batak berhubung dengan adanya larangan dari Pemerintah Hindia Belanda. Dalam Buku Hukum pasal 123 (setelah 1925 menjadi pasal 177) yang menyatakan: "Guru-guru Kristen, imam-imam dan pendeta-pendeta bila hendak masuk suatu daerah untuk melaksanakan tugas mereka harus lebih dahulu mendapat izin dari Gubernur Jenderal. Kalau tugas mereka dianggap membahayakan keamanan suatu daerah, maka izin masuk mereka dapat dicabut oleh Gubemur Jenderal. Terurama dubbelzending dilarang (sekaligus Misi Katolik dan Zending Protestan)". Karena Zending Protestan sudah aktif sejak tahun 1860 di Tanah Batak, maka Gubernur Jenderal tidak memberi izin kepada Misi Katolik untuk masuk Tanah Batak.

Menghadapi tantangan-tantangan ini, para misionaris tak henti-hentinya berjuang. Mgr. Brans sendiri berusaha sekuat tenaga untuk memperoleh izin agar para misionaris Katolik dapat masuk ke Tanah Batak, khususnya Tapanuli. Akhirnya pada tahun 1934 Mgr. Matthias Brans menerima surat izin dari Pemerintah Kerajaan Belanda untuk masuk daerah Tapanuli dan memulai misi di antara orang Batak. Pastor Sybrandus van Rossum, misionaris pertama masuk P, Beatus fenniskens, Pastor pertama di Onanrunggu Tanah Batak, tibadi Balige pada tanggal 5 Desember 1934. Dari sana Agama Katolik menyebar ke seluruh daerah Batak.

Dalam perjalanan waktu jumlah orang Katolik berkembang dengan pesat sehingga paroki-paroki baru dibuka. Pada bulan Oktober 1939 Paroki Onan Runggu dibuka. Pada tanggal 1 Agustus 1941 Paroki Pangururan resmi dibuka dengan tujuh stasi. Dan pada tanggal 29 Oklober 2006 dibuka Paroki Tomok-Simanindo yang merupakan pemekaran dari Paroki Parapat dan Pangururan. Memang laju pertumbuhan umat Katolik sempat tersendat oleh pendudukan Jepang. Tetapi sesudah kemerdekaan, pertumbuhan itu jauh lebih cepat berkembang. Orang Batak menerima baik AgamaKatolik.

Perkembangan kuantitatif berlangsung hingga awal tahun 1970-an. Dan karena sudah hampir semua orang Batak memeluk agama – termasuk di Samosir - maka sejak tahun 1970-an orientasi Gereja Katolik lebih kepada pembinaan iman umat. Berbagai komisi didirikan untuk konsolidasi ajaran iman Katolik. Dengan demikian diharapkan pengabdian Gereja kepada masyarakat semakin bermutu.

Refleksi atas Kehadiran dan FungsiAgama Katolik

Setelah 75 tahunhadir dan berkarya di Samosir, Gereja merayakan yubileum.Yubileum ini merupakan momen yang sangat tepat membuat refleksi mendalam atas kehadiran dan fungsi Agama Katolik untuk masyarakat Samosir. Dua hal ingin dicapai lewat perayaan ini. Pertama, Gereja mengevaluasi diri atas segala usaha yang telah dibuat pada masa lalu dan bersyukur atas rahmat Tuhan yang boleh dialami oleh masyarakat Samosir lewat Gereja Katolik. Gereja tidak lupa juga berterimakasih atas jasa-jasa para misionaris untuk menghadirkan dan mengembangkan Gereja. Kedua, Gereja ingin berbuat lebih banyak lagi baik pelayanan rohani maupun fisik demi pembangunan Samosir. Gereja sadar bahwa sebagai institusi agama, dia berfungsi menjadi perekat sendi-sendi kehidupan dan penegak nilai-nilai moral yang baik, benar,jujur dan adil. Untuk mengisi perayaan sepanjang tahun Yubileum, beberapa kegiatan telah dirancalg dan dilaksanakan. Pada tanggal 5 September 2010 telah dilaksanakan Ibadat pembukaan tahun Yubileum di semua gereja di Kabupaten Samosir. Tanggal 11- 12 Desember 2010, Orang Muda Katolik dari ke-empat paroki telah mengadakan penghijauan di Paroki Onan Runggu. Lewat kegiatan ini kaum muda disadarkan betapa pentingnya menjaga kelestarian lingkunan. Dengan kegiatan ini Gereja Katolik juga melaksanakan tugasnya sebagai penjaga keutuhan ciptaan. Tanggal 26 Desember 20 1 0, Gereja dari ke-empat paroki telah melaksanakan Natal Anak-anak Sekolah Minggu (Asmika) di Paroki Palipi. Lewat pesta ini hendak ditanamkan iman Katolik secara dini kepada anak-anak. Tanggal 8 Mei 20 1 I kaum ibu dan bapak ke-empat paroki telah melaksanakan festival budaya di Paroki Tomok-Simanindo. Tari tradisional dan kreasi baru digelar. Lewat festival ini, para orang tua mau menanamkan cinta akan budaya Batak sekaligus menjalin persaudaraan diantara kaum ibu dan bapak. Tanggal 20-22 Mei 20ll, Gereja Katolik dari keempat Paroki telah melaksanakan Sinode di Paroki Pangururan. Sinode ini bertujuan untuk menyatukan visi membangun masyarakat dan daerah Samosir. Sinode memberi tekanan pada tiga pokok penting, yaitu pendalaman paham akan Kekatolikan, peningkatan mutu pengabdian Gereja kepada masyarakat, dan kepedulian Gereja akan lingkungan hidup. Lalu padatanggal l-2 Juli 2011, para kaum religius asal Samosir telah mengadakan reuni di Paroki Pangururan. Tujuan reuni tersebut ialah menjalin kerjasama di antara kaum religius sekaligus memikirkan usaha mengembangkan hidup beragama dan bermasyarakat umat Katolik di Samosir. Dan puncak dari Yubileum sendiri dirayakan pada tanggal 03 Juli 20ll yang lalu di Stasi Silaban, Simbolon Paroki Palipi. Silaban adalah pos misi pertama di Samosir. Pada kesempatan ini, Gereja benyukur kepada Tuhan atas 75 tahum Gereja Katolik hadir dan berkarya di Samosir.

Lewat semua kegiatan ini, Gereja Katolik mau menyatakan diri sebagai komponen utuh masyarakat Samosir dan memberi pelayanan terbaik untuk membangun masyarakat Samosir. Gereja mau hadir sebagai garam dan terang masyarakat. Kehadiran dan fungsinya harus menyatakan kasih, damai, persaudaraan, keadilan, kejujuran, dan membangun solidaritas dengan masyarakat kecil. Gereja hadir untuk menghadirkan kasih Tuhan di tengah masyarakat.

"Yubileum ini sangat berkesan dan menggugah. Saya disadarkan bahwa sudah 75 tahun Katolik di Samosir ini. Rasanya baru kemarin jadi Katolik. Terus terang, belum ada hal yang serius yang saya sumbangkan ke gereja saya. Gereja memang sudah banyak berbuat, tetapi Saya. Apa, ya?",kata Pak Hasoloan Pandiangan sambil mengingat-ingat. Semoga Perayaan Yubileum 75 tahun Gereja Katolik di Samosir menjadi peneguhan dan pembaharuan diri dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya di hadapan Tuhan dan di tengah masyarakat Samosir.

Oleh: P. HermanNainggolan, OFM Cap.

Disadur dari: MENJEMAAT, No. */XXXII/Agustus 2011

MENGAPA ORANG BATAK TOBA MARGONDANG

MENGAPA ORANG BATAK TOBA MARGONDANG

Pada 30-31 Agustus 2011 yang lalu, bertempat di aula Paroki St. Mikael Pangururan diadakan seminar dengan I tema: Gondang Saborngin, Lotung-Lotung, dan Mangongkal Holi Seminar yang dibuka oleh Mgr. Anicetus B. Sinaga, OFMCap ini diikuti 200-an peserta yang terdiri dari utusan stasi separoki Pangururan, utusan Paroki Tomok, Palipi, 0nanrunggu, tokoh adat, raja-raja bius (kampung), utusan gereja tetangga, biarawan/ti, dan pemerhati budaya.

P. Herman Nainggolan,OFMCap selaku ketua panitia mengatakan bahwa seminar ini menjadi langkah awal dalam penyusunan liturgi Katolik yang berkaitan dengan gondang, Maka untuk itu panitia menghadirkan 12 narasumber yang dianggap berkompeten: Mgr. Anicetus B. Sinaga, P. Richard Sinaga, P. Kornel Sipayung, P. Elio Sihombing, Prof Bungaran Simanjuntak, Nai Orli br Sinurat, Ama Asima Silalahi, Ama Friska Sitanggang, Karimuda Sihole, Alimantua Limbong, Willem Situmorang, dan MC. Situmorang.

Gondang Saborngin

Ama Friska Sitanggang menuturkan bahwa latar belakang utama diadakannya gondang sabomgin adalah untuk menolong orang yang menderita, yang diganggu oleh roh jahat. Gondang saborngin, bukan menjadi syarat mutlak untuk memperoleh kesembuhan tetapi menjadi sarana untuk berkomunikasi dengan Mulajadi Nabolon dan roh nenek moyang. Gondang untuk ritus penyembuhan disebut Gondang Saem. Selain itu, gondang saborngin kerap juga diselenggarakan karena ada sukacita. Misalnya: ketika ada keluarga yang sudah lama menginginkan seorang anak, dan berjanji apabila anak lahir maka akan diadakan gondang saborngin. Ada juga yang disebut dengan Gondang Songgot. Misalnya: ketika mengalami kecelakaan. Melihat tempat kecelakaan tersebut, dia pasti sudah meninggal; tetapi dia selamat. Maka akan diadakan gondang saborngin. Ada juga yang disebut dengan Gondang Sungsang. Gondang ini dibuat untuk menghapus dosa. Misalnya: nenek moyang seseorang atau sekelompok orang pada generasi ketiga atau kelima berdosa kepada teman semarg a (dongan sabutuha), pihak pemberi istri (hula-hula), atau penerima istri (boru). Dosa itu berakibat kepada keturunannya. Maka untuk mengaku dan minta ampun diadakanlah gondang sungsang.

Apakah gondang ini sungguh diselenggarakan sepanjang malam? Dalam pemaparan, M.C. Situmorang menyampaikan waktu pelaksanaan godang saborngin antara pukul 15.00 wib sampai jam 10.00 Wib hari berikutnya. Sementara itu, Nai Orli br Sinurat seorang sibaso parutui (dukun perempuan) mengatakan tidak ada waktu yang ditetapkan; setengah hari juga bisa. Hanya saja karena bangsa batak diikat oleh Dalihan Natolu (dongan tubu, hula, boru); maka dibutukan waktu minimal 1 malam supaya semua pihak dalam Dalihan Natolu mendapat giliran manortor.

Gondang Lotung Lotung

Gondang ini diperuntukkan bagi kakek atau nenek yang berkeluarga dan sudah mencapai kepenuhan hidup menurut cita-cita orang Batak Toba: hamoraon (kaya), hagabeon (berketurunan laki-laki dan perempuan), dan hasangapon (terpandang dalam masyarakat). Fungsi gondang dalam nlus lotung-lotung ada dua. Pertama, sebagai ganti tangisan (andung-andung) karena orangtua yang meninggal tersebut masih mempunyai anak yang belum menikah. Kedua sebagai ucapan syukur karena semua anak dari yang meninggal tersebut sudah berkeluarga. Waktu pelaksanaan gondang lotung-lotung bisa antara satu, tiga, lima, tujuh hari atau lebih. Hal ini tergantung kepada keadaan orang yang meninggal dan kemampuan keturunannya untuk melaksanakan gondang lotung-lotung tersebut.

M.C. Situmorang mengatakan terdapat beberapa jenis gondang lotung-lotung:
Pertama, gondang lotung-lotung kepada kakek-nenek na sari matua (yang meninggal sudah memiliki cucu, tetapi masih ada diantara anaknya: perempuan atau laki-laki yang belum berkeluarga).

Kedua, gondang lotung-.lotung kepada kakek-nenek na saur saimatua (yang meninggal sudah memiliki cucu dan semua anaknya sudah menikah tetapi kemudian si kakek (biasanya laki-laki) menikah lagi dan pada waktu dia meninggal masih ada anaknya dari istri kedua yang belum menikah). Maka meskipun dia saur matua dari isteri pertama, tetapi dia masih sari matua dari isteri kedua.

Ketiga gondang lotung-lotung kepada kakek-nenek na matua bulung, (yang meninggal sudah punya cucu dari anaknya yang laki-laki maupun perempuan dan sudah memiliki cicit (marnini-marnono,) tetapi sebelum dia meninggal sudah ada anak atau cucunya yang meninggal),

Keempat, gondang lotung-lotung kepada kakek-nenek na saur mauli bulung. Artinya gondang lotung-lotung tersebut dilaksanakan bagi kakek-nenek yang punya cucu dan cicit dan tidak ada di antara keturunannya yang meninggal sebelum dia sendiri meninggal. Bagi kakek-nenek yang demikian diperbolehkan untuk mengadakan gondang lotung-totung lmpu sanggar ni huta. Jenis gondang ini adalah gondang penghormatan tertinggi untuk kakek-nenek yang meninggal.

Gondang Mangongkal Holi

Gondang mangongkal holi adalah ritus untuk menghormati orangtua yang sudah meninggal dengan menggali tulang belulang mereka dan disimpan di tempat yang terhormat dan aman. pada masa sekarang tempat terhormat dan aman adalah simin/tugu yang banyak dijumpai di daerah Samosir.

Prof. Bungaran A. Simanjuntak (dosen Pasca Sarjana Jurusan Antropologi Budaya Unimed) yang akrab disapa Prof. Bas menuturkan bahwa gondang mangongkal holi menjadi sarana menaikkan status nenek moyang di dalam dunia orang mati. Dengan ritus gondang mangongkal holi berarti status roh nenek moyang itu berubah dari status begu (roh biasa) menjadi sumangot (roh yang disegani). Dan kalau semakin besar pengaruh nenek moyang tersebut kepada keturunanya, artinya semakin banyak keturunannya menjadi orang yang berhasil (kaya, berketurunan, terpandang) maka keturunannya mengadakan pesta yang lebih besar sehingga nenek moyang tersebut mendapat predikat sombaon (roh yang disembah). Tempatnya pun akan dipindahkan dari ssimin/tugu ke tempat yang lebih kudus misalnya; hutan perawan, sumber air, batu besar, danau atau sungai.

Fungsi dan Manfaat Gondang

Dalam kesempatan yang sama, Prof Bas juga mengetengahkan fungsi dan manfaat gondang. Meenurut beliau, gondang berfungsi kommemoratif (pengenangan kepada nenek moyang yang sudah meninggal dunia); revitalisasi spirit (memperkuat, meningkatkan spirit penghormatan kepada nenek moyang); honour (penghormatan kepada nenek moyang dongan sabutuha, hula-hula, boru); Reunion (perjumpaan roh nenek moyang dengan keturuannya yang masih hidup); solidaritas (menjalin kekrabatan diantara orang batak), Selain itu, gondang juga memiliki manfaat antara lain:

pertama, sebagai sarana membangun kehormatan yang mati dan juga kehormatan keturunan;

kedua, menaikkan status roh nenek moyang dari begu ke sumangot dan akhirnya menjadi sombaon;

kefiga, menaikkan status keturunan didepan keluarga dan masyarakat umum;

keempat, membuat roh nenek moyang menjadi roh yang dihormati di dunia roh-roh apalagi kalau persembahan yang dipersembahkan bemilai linggi;

kelima, supaya roh tidak kesepian dan dapat membanggakan diri kepada roh-roh orang lain: sahabat atau lawan.

Tantangan Zaman lni

Tidak dapat dipungkiri, banyak orang toba yang tidak lagi mengerti gondang. Persoalan utama antara lain:semakin sedikit orang yang memahami gondang, tidak tahu lagi urutan maminta gondang (permintaan gondang). Prof. Bas mengutarakan bahwa urutan maminta gondang yang seharusnya ada tujuh adalah:

pertama gondang mula-mula yang terdiri dari : alu-alu kepada Debata Mulajadi Nabolon, alu-alu kepada sahala ni amanta raja, dan alu-alu kepada badia ni Inanta Soripada Mulia;

kedua, gondang somba-somba (kepada Debata Mulajadi Nabolon dan masyarakat yang hadir);

ketiga, gondang Sampur marmeme;

keempat, Gondang Monang-monang;

kelima, Gondang Sampur marorot;

keenam, gondang Didang-didang; dan kejutuh, Gondang Sitio tio dohot hasahaton.

Masih menurut Prof. Bas, untuk melestarikan adat batak, kebatakan harus diajarkan kepada generasi muda dan kembali membiasakan membawa anak-anak ke pesta adat. Selain itu, orang batak harus "menentang" gereja yang anti gondang dan adat batak. Diharapkan, Gereja menjadi penjaga kearifan lokal yang terdapat dalam gondang dan menjaga agar budaya batak tidak bertentangan dengan kekristenan.

Refleksi Gereja: Benih sabda Dalam Budaya Toba

P. Richard Sinaga,OFM.Cap mengatakan bahwa terdapat banyak hal yang indah dan baik dalam budaya batak toba. Setiap budaya, termasuk budaya toba mengandung benih-benih Sabda (Semina verbi) tetapi tidak bisa langsung diadopsi ke dalam kekristenan. Tugas kita adalah terus-menerus mencari dan menentukan mana benih Sabda yang terungkap dalam adat kebatakan menurut cahaya ajaran Katolik yang benar. Oleh karena itu menurut beliau, seminar ini tidak akan memberi jawaban praktis mana yang benar dan salah dari adat-istiadat kita. Perihal mana yang benar dan tidak benar perlu dikomunikasikan dengan magisterium partikular (Uskup).

Dibutuhkan Kejelian

Mgr. Anicetus B. Sinaga, OFMCap sebagai pemilik otoritas tertinggi di KAM ini mengatakan bahwa gereja tidak menolak yang baik, suci yang terdapat dalam adat istiadat. Hal baik yang terdapat di agama batak dapat dibandingkan dengan kesediaan bangsa lsrael menerima penyelamatan. Jadi agama batak menjadi preparatio evangelica (persiapan injil). Jadi sebelum kekristenan datang ke tanah batak, agama batak menjadi penghantar ke surga. Supaya adat batak itu tidak bertentangan dengan kekristenan, dibutuhkan suatu transformasi (pengubahan) baik dalam lingkup ritus liturgi maupun pandangan teologis agar semuanya menjadi milik Kristus. Tetapi harus diingat, dibutuhkan kejelian dalam menilai dan memilah-milah sebab tidak semua peninggalan leluhur itu baik.

Nenget unang tartuktuk, manat unang tarrobung. Begitu Mgr. Anicetus mengingatkan peserta seminar dalam berinkulturasi. Oleh sebab itu menurut beliau dibutuhkan tiga prinsip dalam menata liturgi Katolik yang berkaitan dengan gondang sabomgin, lotung-lotung, dan mangongkal holi.
Pertama, dalam acara ritus, harus disembah Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus.

Kedua, Dalam acara tersebut disampaikan tentang kisah kebangkitan Yesus Kristus, Kematian adalah cara untuk mencapai surga,

Ketiga, Yesus Kristus telah mati untuk keselamatan manusia, menebus dari kematian

(Fr Albert Simbolon, OFM Cap.)
MENJEMAAT, No. 10?XXXIII/Oktober 2011

PENYULUH AGAMA KATOLIK: MITRA GEREJA DENGAN NEGARA

PENYULUH AGAMA KATOLIK: MITRA GEREJA DENGAN NEGARA

Jabatan Penyuluh Agama Katolik sepertinya baru beberapa tahun ini kedengaran di kalangan masyarakat. Apa dan bagaimana peran serta fungsi dari Penyuluh Agama Katolik sepertinya belum diketahui dengan baik oleh masyarakat. Selama puluhan tahun yang dikenal masyarakat mengenai penyuluh adalah penyuluh pertanian, dan penyuluh KB (Keluarga Berencana).

Pembakuan istilah Penyuluh Agama Katolik dan pengangkatan mereka dalam jabatan fungsional makin mempertegas eksistensi dan identitas para penyuluh agama di tengah masyarakat, serta untuk mempertajam tugas dan fungsi yang dijalankan. Sebagaimana dalam Keputusan Menteri Negara Koordinator Bidang Pengawasan Pembangunan dan Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 5 4/KEP/MK.WASPAN/9/1999 tentang Jabatan Fungsional Penyuluh Agama dan Angka Kreditnya, disebutkan bahwa tugas pokok penyuluh agama adalah melakukan dan mengembangkan kegiatan bimbingan atau penyuluhan agama dan pembangunan melalui bahasa agama. Maka, peranan penyuluh agama, salah satunya adalah Penyuluh Agama Katolik dalam melaksanakan bimbingan tugas operasional Departemen Agama sangatlah penting dan strategis, karena tugas tersebut, tidak hanya melaksanakan bimbingan dan penyuluhan kepada masyarakat, tetapi juga memberikan penerangan dan motivasi terhadap pelaksanaan program-program pembangunan melalui pendekatan keagamaan dengan bahasa agama.

Pemerintah, dalam hal ini Departemen Agama menjadi salah satu tombak, dan Penyuluh Agama Katolik adalah ujung tombak yang berperan penting dalam upaya membimbing umat katolik memahami ajarun agana dan mengamalkannya seaara berkualitas. Keberhasilan seorang Penyuluh Agama Katolik di tengah-tengah umat dipengaruhi oleh beberapa elemen terkait seperti pengembangan kerja sama dan koordinasi yang baik dengan Gereja, para imam/kaum religius, dewan pastoral paroki/stasi, umat, serta perangkat masyarakat lainnya. Kemajemukan masyarakat lndonesia khususnya umat katolik yang ada di berbagai keuskupan di Indonesia sangat beragam, yakni terdiri dari berbagai suku, ras, tradisi, bahasa, dan status sosial ekonomi yang berbeda satu sama lain. Melihat kondisi semacam ini. Penyuluh Agama Katolik harus menyusun strategi yang tepat agar tercapai tujuan yang diharapkan.

Untuk menunjang tugas itu pemerintah telah mengeluarkan Keppres Nomor 87 Tahun 1999 tentang Rumpun Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil yang antara lain menetapkan bahwa penyuluh agama adalah jabatan fungsional pegawai negeri yang termasuk dalam rumpun keagamaa. Sedangkan strategi pelaksanaan penyuluhan mencakup semua langkah yang tepat dalam melaksanakan tugas penyuluhan, menentukan sasaran penyuluhan, menggunakan metode penyuluhan yang tepat dengan keadaan dan kondisi sasaran. Yang dimaksud dengan penyuluh agama negara adalah pegawai negeri sipil yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang, secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan kegiatan bimbingan keagamaan dan penyuluhan pembangunan melalui bahasa agama. Masing-masing penyuluh agama negara ini berada dalam strukur organisasi Kementerian Agama Republik Indonesia Begitu pula dengan Penyuluh Agama Katolik yang berada dalam naungan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Ditjen Bimas) Katolik Kementerian Agama RI. Sementara itu, yang menjadi Pembimbing Masyarakat Katolik Kantor Wilayah Departemen Agama Propinsi Sumatera Utara (Pembimas Katolik Kanwil Depag Provsu) adalah Dra. Yulia Sinurat, M.Pd.

Berikut ini Penyuluh Agama Katolik/Katekis sejajaran Bimas Katolik Kanwil Kemenag Provsu di KAM yang berkarya di wilayah kerja/paroki :
1. Abdon Manalu, S.Ag Kabupaten
Serdang B edagai, Tebingtinggi

2. Asil Karo-karo, S.Pd Kota Medan, Medan

3. Alisben Nababan Kabupaten Tapanuli Utara, Tarutung

4. Agustina Sibagariang, Dra. M.Pd Kota Binjai,Binjai

5. Antonius Manullang, S.Ag KabupatenNias, Grurungsitoli

6. Batu Tarigan, S.Ag Kabupaten Karo, Kabanjahe

7. Bisler Simatrpang, S.Ag Kabupaten Pakpak Bharat, Sidikalang

8. Budiman Situmorang Kota Medan, Medan

9. Eduardus B. Sihaloho, S.Ag Kota Tanjungbalai, Tanjungbalai

10. Eus Takues Galis Embu, S.Ag Kota Tebingtinggi, Tebingtinggi

11. F. Sudarianto, S.Ag Kabupaten Tapanuli Utara, Tarutung

12. HotmanManalu, S.Ag, M.Pd Kabupaten Deli Serdang Delitua

13. Malam Ginting Kabupaten Asahan, Kisaran

14. Mayam Kabupaten Karo, Kabanjahe

15. Marihuttua Pasaribu, S.Ag Kota Pematangsiantar, Pematangsiantar

16. Marningot Marbun Kabupaten HUMBAIIAS, Dolok Sanggul

17. Plasidus Papi, S.Ag Kabupaten Samosir, Pangururan

18. Rositta Pae Kabrryaten Tapanuli Utara,Tarutung

19- Santanaria SPd, Kota Pematang iantar, Pematangsiantar
20. Sorang Tumanggor, Sag Kabupaten Dairi, Sidikalang

21. Tetty Rosanti Situmorang Kota Sibolga Sibolga

22. Tri Sujarwadi, S.S Kabupaten Deli Serdang, Tanjung Selamat

23. Tulozomasi Hulu S.Ag Kota Medan, Medan

24. Johanes Bohalima S.Ag Kabupaten Nias, Gunung Sitoli

Penyuluh Agama Katolik dilihat dari jabatan fungsionalnya berbeda dengan pejabat dan pegawai kantor serta guru agama, meskipun berada di bawah naungan Ditjen Bimas Katolik Kemenag RI. Misalnya untuk guru agama katolik hanya terfokus pada anak-anak didik di sekolah, sementara Penyuluh Agama Katolik memainkan peran di dua wilayah yakni umat beriman yang secara teritorial dan kategorial berada dalam wilayah domain pimpinan Gereja. Penyuluh Agama Katolik melakukan penyuluhan di beberapa kelompok binaan seperti masyarakat pedesaan, masyarakat perkotaan, kelompok pemerintah, Orang Muda Katolik, Lembaga Pendidikan Masyarakat seperti komuni pertama, WKRI, BIA, untuk binaan khusus seperti pondok sosial, panti rehabilitasi, pekerja seks komersial, lembaga pemasyarakatan, dan di masyarakat daerah terpencil maupun suku terasing, dan masih banyak lagi.

Jika berbicara mengenai tunjangan jabatan fungsional Penyuluh Agama Katolik, ditetapkan dalam Peraturan Presiden RI No.43 Tahun 2006, dalam Pasal 2 dikatakan bahwa kepada Pegawai Negeri Sipil yang diangkat dan ditugaskan secara penuh dalam Jabatan Fungsional Penyuluh Agama, diberikan tunjangan Penyuluh Agama setiap bulan, yang sesuai dengan beban kerja dan tanggung jawab pekerjaannya. Keberadaan Penyuluh Agama Katolik memiliki makna yang penting dalm mengkomunikasikan ajaran agama dan progam-program pembangunan dengan bahasa agama kepada masyarakat. Keberadaan Penyuluh Agama Katolik mempunyai arti penting serta turut berperan dalam membangun karakter umat. Walau bertugas melayani masyarakat, khususnya umat katolik, para PenyuluhAgama Katolik ini tidak bisa bekerja sendiri, tapi harus bekerja sama dengan Gereja.

Peranan Penyuluh Agama Katolik dalam pembangunan sebagai pelopor dan motivator, melalui usaha memberikan penerangan, pengertian, tentang maksud dan tujuan pembangunan, mengajak serta menggerakkannya untuk ikut serta aktif mensukseskan pembangunan. Terlebih, pada pembangunan dewasa ini, beban tugas Penyuluh Agama Katolik lebih ditingkatkan lagi dengan usaha menjabarkan segala aspek pembangunan melalui pintu dan bahasa agama. Peran dan posisi Penyuluh Agama Katolik adalah untuk melanggengkan tugas kemitraan yang telah dibangun antara Gereja dan Negara RI. Sementara tugas dan tanggung jawab khusus untuk melanggengkan tugas kemitraan dijalankan oleh Bimbingan Masyarakat Katolik (Bimas Katolik) dalam domain Kementerian Agama RI.
(EE dari berbagai sumber)
MENJEMAAT,No. 10/XXXIII/Oktober 2011

KERJASAMA ANTARA GEREJA KATOLIK, BIMAS KATOLIK DAN PENYULUH AGAMA KATOLIK

KERJASAMA ANTARA GEREJA KATOLIK, BIMAS KATOLIK
DAN
PENYULUH AGAMA KATOLIK

Kesatuan dalam keragaman.

Keragaman lembaga dan peran menjadi ciri khas Gereja. Ketika bersinggungan dengan negara keragaman tersebut semakin lebih luas lagi. Walaupun di sanasini masih banyak hal yang belum diapresiasi pemerintah atas apa yang kita harapkan dari negara soal hidup keberagaman, khususnya dalam relasi dengan agama lain dan perhatian negara terhadap agama kita, tetap kita syukuri bahwa pemerintah masih memberi ruang dan kesempatan untuk kemajuan dan perkembangan hidup keberagamaan kita.

Keberadaan Bimas Katolik dan Penempatan beberapa Penyuluh Agama Katolik di beberapa daerah, misalnya, menjadi bukti perhatian pemerintah. Dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Jelas bahwa keberadaan lembaga ini dengan orang-orangnya merupakan sebuah sikap menampung aspirasi dari, oleh dan untuk umat Katolik. Keberadaan Gereja katolik menjadi dasar keberadam Bimas Katolik dan penyuluh Agama Katolik. Premis terbalik tidak bisa dikatakan. Keberadaan lembaga keagamaan kdolik jelas ada dan lahir karena umat katolik. Dengan demikian misinya pun menjadi jelas. Misinya selaras dengan misi Gereja Katotik, yaitu pewartaan dan pengembangan iman kekatolikan.

Pengalaman selama ini menjadi gembala yang memberi pandangan kepada saya. Segala hal yang dijalani dan dialami menjadi barometer tuk melihat kekompakm gerak dalam bemisi di Keuskupan Agung Medan khususnya. Saya merasa ada kekurang harmonisan nyata antata misi Gereja dan misi Departemen Agama atau Bimas katolik. Di sini kenyataanny bisa timbal balik dialami oleh gereja sendiri atau orang-orang yang bekerja di Bimas dan penyuluh agama Katolik. Kurang bijak saling menuduh, tapi bijak bila kita mengakui ada secara factual kekurangharmonisan itu. Pada kenyataannnya masih terjadi kekurangpuasan baik dari pihak kalangan katekis negara terhadap para imam-imam, atau ketidak puasan komunitas Gereja paroki terhadap para penyuluh agama katolik. Keadaan ini masih merupakan sebuah sandungan dan kendala bagi pengembangan pastoral yang utuh dan efektif untuk paroki. Untuk itu perlu beberapa penegasan awal sebelum melangkah kepada sistematisasi kejelasan. Penegasan awal itu adalah:

Pertama, negara pancasila dalam kementrian agama telah mengambil kewajiban bagi dirinya untuk mendukung hidup dan pengembangan agama di Indonesia.

Kedua, eksistensi Bimas Katolik tergantung dan teruntuk pelayanan umat katolik. Hanya karena jumlah umat katoliklah sehingga eksistensi dan formasi Bimas Katolik mempunyai adanya yang sekarang. Karena itu, adalah tuntutan adanya dan fungsi Bimas Katolik yang teruntuk bagi pelayanan umat katolik untuk lebih akurat penyaluran (pelayanan) fungsi Bimas Katolik telah didaftarkan bidang-bidang yang dapat, yang sepantasanya, dan yang disanggupi oleh pihak Bimas katolik bagi pengembangan dan pembinaan Gereja Katolik. Dalam hal ini antara lain tentulah tercatat bantuan Bimas Katolik untuk mendukung sekolah katekis (STP Bonaventura) menyediakan sarana-sarana gerejawi, seperti perangkat misa, peralatan Gereja, bahkan sumbangan pembangunan rumah ibadat. Juga telah disepakati dan sudah terlaksana subsidi dan pendampingan Bimas Katolik bagi seminaris, pembinaan para pengurus gereja, imam muda, dan lain-lain. Termasuk dalam kesepakatan kerjasama antara Bimas Katolik dan paroki-paroki untuk mengusahakan diangkatrya beberapa PenyuluhAgama Katolik agar terjadi keselarasan kerjasama antara paroki dan tenaga-tenaga Penyuluh Agama Katolik. Mereka kita harapkan resmi ditempatkan di paroki-paroki. Artinya, pendampingan dan bimbingan kerja dan karya diserahkan kepada pastor paroki juga dalam peningkatan status dan golongan dibutuhkan rekomendasi dari pastor paroki. Para penyuluh mendapat penghidupan dan penggajian dari negara, tetapi koordinasi dan pemberian lingkup karya dan tanggung jawab para penyuluh tersebut adalah pastor paroki. Pastor paroki yang bertanggungjawab untuk melakukan bimbingan atas tenagatenaga ini dalam hubungan dengan Bimas Katolik dan Keuskupan. Ada baiknya jika secara berkala mereka dikumpulkan, diarahkan dan dibina dalam kesatuan seluruh tenaga pastoral di paroki.

+ Salam dan berkat
MgrA.B. Sinaga, OFMCap
MENJEMAAT, No. l0D(XXIIVOktober'2011

BERGEMBIRAKAH ORANG (KRISTIANI) ATAS KEMATIAN OSAMA BIN LADEN?

BERGEMBIRAKAH ORANG (KRISTIANI) ATAS KEMATIAN OSAMA BIN LADEN?

Hal yang menarik, dalam beranda FB ada tertulis, “Kabar gembira bagi kita semua khususnya umat kristiani, Osama telah meninggal dunia tanggal 2 Mei 2011. Dia meninggal dunia dalam serangan pasukan Amerika serikat.” Ada pula yang menuliskan, “Turut berdukacita atas meninggalnya Osama Bin Laden.”

Kematian Osama Bin Laden menimbulkan banyak reaksi. Ada banyak orang yang bergembira atas kematian pemipimpin Al-Qaeda yang memang sepak terjangnya melahirkan kebencian antar agama dan juga melahirkan terror dan bahkan pembunuhan yang mengorbankan banyak orang. Tetapi dipihak lain, tentu juga tidak sedikit orang yang berduka atas kematiannya, yakni para pengikutnya atau para pendukungnya yang setuju atau yang sealiran dengannya. Sebab pasti banyak juga orang sealiran dengannya baik secara terang-terangan dengan menjadi pengikutnya maupun secara diam-diam karena tidak berani. Orang yang berduka atas kematian Osama Bin Laden malah akan marah dan benci terhadap yang bergembira atas kematiannya. Bahkan mungkin para pengikutnya bukannya menjadi surut tetapa akan melahirkan Osama Bin Laden lain yang mungkin akan lebih sadis lagi.

Osama Bina Laden memang telah banyak menimbulkan kematian atau pembunuhan di dunia ini. Dia melakukannya karena paham keliru dan pahamnya sudah merasuk bagi banyak orang. Orang yang tidak sepaham dengan pemikirannya tentu ada rasa lega karena otak terror dan pembunuhan selama ini dicari-cari akhirnya mati juga. Tetapi apakah kita orang Kristen patut bergembira atas kematiannya? Pantaskah kita meluapkan kegembiraan itu dengan ekpresi yang meluap-luap?

Mungkin suatu hal yang menuasiawi bahwa kita ‘bergembira’ karena otak perpecahan dan pembunuhan selama ini telah mati. Kita bergembira karena dengan kematiannya berharap bahwa kerusuhan dan terror atau pembunahan akan berkurang. Tetapi apakah kematian Osama Bin Laden akan menjadi jaminan bahwa terror dan pembunuhan selama ini akan berkurang dan tidak akan terjadi lagi? Ini buka suatu jaminan, karena bagaimanapun selama dia hidup, dia pasti sudah mengkader dan mencuci otak para pengikutnya untuk meneruskan aksinya selama ini. Mungkin kematian Osama Bina Laden akan mengejutkan para pengikutnya dan mungkin membuat mereka sedikit gentar, kehilangan semangat karena kehilangan pemimpin mereka. Tetapi kematian pemimpin Al-Qaedah itu bukan jaminan bahwa aksi mereka akan berkurang dan hilang. Justru pasti akan muncul pemimpin-pemimpin baru yang bisa saja akan lebih sadis lagi. Dendam dan kebencian para pengikutnya atas kematian pemimpin mereka bisa saja akan melahirkan aski yang lebih hebat lagi karena melihat reaksi kegembiraan yang meluap-luap dari orang yang tidak sejalan dengan mereka. Hal ini juga dinyatakan oleh Uskup Agung Emeritus Lahore Mgr Lawrence Saldanhaskup di Pakistan kepada ucanews.com pada 2 Mei. (Beritanya di sini.) “Karena tidak bisa menyerang AS, kami bisa dijadikan empuk empuk. Kami menuntut keamanan. Pemerintah harus mengendalikan serangan balasan apapun,” Uskup ini mengingatkan orang Kristen akan kemungkinan ini. Kata-kata bijak uskup ini sekaligus mengingatkan kita untuk tidak perlu bergembira atas kematian Osama Bin Laden, bahkan tidak perlu kegembiraan itu diekspresikan secara berlebihan.

Vatican juga mengatakan hal yang sama juru bicara Vatikan Pastor Federico Lombardi SJ, dengan mengatakan, “Dalam menghadapi kematian seseorang, orang Kristen tidak pernah bergembira, tetapi merenungkan tentang tanggung jawab serius dari setiap manusia di hadapan Tuhan dan di depan manusia, dan berharap dan berusaha agar setiap peristiwa menjadi kesempatan untuk lebih menumbuhkan kedamaian dan bukan kebencian,”. (Beritanya di sini.)Maka benar dan tepatlah bahwa kematian Osaba Bin Laden kita tidak bergembira, karena orang Kristen tidak pernah bergembira atas kematian seseorang. Dalam hal ini kita bisa belajar dari Yesus sendiri ketika dia dihukum mati di salib. Saaat Dia tergantung di kayu salib, Yesus tidak membenci atau mengutuki orang yang membunuh-Nyat tetapi malah memohonkan pengampunan kepada mereka (Luk 23:34). Maka baiklah kiranya kematian Osama Bin Laden juga membuat kita merenungkan bahwa kematian akan menemui semua orang, hanya memang saat dan bentuk kematian seseorang itu berbeda satu sama lain. Dari peristiwa itu, kita bisa merenungkan bahwa kematian orang yang hidupnya banyak ‘melakukan’ kejahatan, akan juga mati akibat perbuatannya dan bahkan dengan cara yang mengerikan pula. Dan sebagaimana dikatakan oleh juru bicara Vatikan, menanggapi kematian Osama Bin Laden justru harus membuat kita merenungkan bahwa manusia membutuhkan kedamaian dalam hidup ini. Maka tugas kita juga untuk ikut mengupayakan kedamaian dalam hidup ini. Kebencian yang telah ditanamkan dan diwariskan oleh Osama Bina Laden kepada para pengikutnya, justru kita hadapi dengan mengupayakan kedamaian. Dengan hidup damai dan memperjuangkan kedamaian, kita berharap tidak muncul lagi Osama Bin Laden lain yang lebih kejam.

Temuan studi, agama akan punah

Temuan studi, agama akan punah

Sebuah studi dari sembilan negara tentang afiliasi keagamaan menunjukkan bahwa agama ditetapkan untuk punah di semua negara tersebut, demikian para peneliti.

Data menunjukkan bahwa adanya peningkatan proporsi penduduk yang menyatakan tidak berafiliasi dengan agama apapun, demikian laporan dari 3 News.

Akademisi dari Northwestern University di Illinois, Arizona University, dan perusahaan riset di Tucson menggunakan model matematis untuk menghitung penurunan jumlah penduduk yang mengaku tidak beragama dari data sensus di Selandia Baru, Australia, Austria, Kanada, Republik Ceko, Finlandia , Irlandia, Belanda, dan Swiss.

“Hasilnya, sebagaimana dilaporkan dalam pertemuan American Physical Society di Dallas, AS, menunjukkan bahwa agama akan mati sama sekali di negara-negara itu,” demikian BBC.

“Di sejumlah besar negara-negara demokrasi sekuler modern, sudah ada kecenderungan bahwa rakyatnya menyebut diri tidak berafiliasi dengan agama apapun. Di Belanda, jumlahnya 40 persen. Angka tertinggi berada di Republik Ceko, yang mencapai 60 persen,” kata Richard Wiener dari Research Corporation for Science Advancement, di Tucson, kepada BBC.

SUMBER Religion set for extinction in NZ – US study (3 News)
Disadur dari : cathnewsindonesia.com

Metafisika, tekanan Vatikan dalam studi filsafat di seminari

Metafisika, tekanan Vatikan dalam studi filsafat di seminari

Decree on the Reform of Ecclesiastical Studies of Philosophy yang baru dipublikasi dari Kongregasi Vatikan untuk Pendidikan Katolik memberi penekanan baru pada metafisika.

Dekrit tersebut diungkapkan dalam konferensi pers pada 22 Maret oleh Prefek Kongregasi Zenon Kardinal Grocholewski; sekretaris Uskup Jean-Louis Brugues O.P.; dan rektor Universitas Angelicum (St. Thomas Aquinas), Pastor Charles Morerod O.P.

Dekrit berjudul ‘Ecclesia semper est reformanda’ itu merupakan tanggapan “terhadap tuntunan baru kehidupan Gereja dalam situasi historis-kultural yang tengah berubah dan ini juga (mungkin secara khusus) ada dalam dunia akademis,” kata Kardinal Grocholewski.

“Di satu sisi, (ada) banyak keterbatasan dalam pendidikan filsafat di lembaga-lembaga eklesial: tidak ada poin-poin acuan yang jelas menyangkut subyek yang harus diajarkan dan kurangnya dosen filsafat yang berkualitas,” tambah kardinal.

“Di lain pihak, ada keyakinan – seperti terungkap dalam ‘Fides et ratio,’ ensiklik 1998 dari Paus Yohanes Paulus II – tentang pentingnya metafisika, … dan kesadaran bahwa filsafat itu sangat diperlukan dalam pendidikan teologi.”

“Karena alasan inilah, maka dekrit itu bermaksud untuk kembali mengevaluasi filsafat dalam terang ensiklik tersebut, … dengan kembali melihat “tujuan awal” filsafat yaitu mencari kebenaran serta dimensi metafisik dan kebijaksanaan (sapiental and metaphysical dimension),” katanya.

Teks dekrit itu sudah dipersiapkan sejak tahun 2004 ketika kongregasi tersebut membentuk sebuah komisi para pakar filasafat. Komisi yang beranggotakan para pakar intelektual dan institusional serta wakil-wakil dari bidang linguistik dan geografis itu ditugaskan untuk menyiapkan sebuah proyek pembaruan.

Versi definitif dekrit tersebut “diratifikasi dalam pertemuan biasa dari Kongregasi Vatikan untuk Pendidikan Katolik pada 16 Juni 2010.″ Selain “menyetujui ‘bentuk khusus’ yang dimodifikasi untuk Konstitusi Apostolik ‘Sapientia christiana,’ Paus Benediktus juga menyetujui ‘bentuk umum’ teks dekrit tersebut.”

SUMBERReform of ecclesiastical studies of philosophy (Vatican Information Service)

Disadur dari :cathnewsindonesia.com

Situs Angkasa Luar dari Vatikan

Situs Angkasa Luar dari Vatikan

(20/2/2011)"Jika Big Bang mengawali semuanya, apa yang terjadi sebelumnya?" Itu adalah salah satu pertanyaan yang diajukan oleh situs internet baru yang sedang dalam proses untuk diluncurkan oleh Vatikan dan kelompok ilmuwan Italia.

Setelah berabad-abad ada rasa saling tidak percaya antara agama dan ilmu pengetahuan, situs ini diluncurkan untuk memberikan pemahaman yang lebih dalam di antara kedua pihak.

Situs yang akan tersedia dalam bahasa Inggris dan Italia itu memberikan informasi mengenai segalanya, dari astronomi sampai teologi, dari misi angkasa luar sampai filsafat dan seni.

Situs itu akan mempunyai tiga portal -satu untuk digunakan umum, satu untuk para mahasiswa dan para dosen, dan satu lagi untuk para ilmuwan.

Dalam masing-masing portal akan ada berbagai platform multimedia termasuk bagian kosmologi, dan bagian yang memberikan data terbaru yang dikumpulkan oleh satelit dan pesawat-pesawat tak berawak.

Proyek ini dijalankan secara bersama oleh Vatikan dan Badan Angkasa Luar Italia, ASI.

Kebenaran ganda

Monsinyur Gianfranco Basti, dekan fakultas Filsafat Universitas Pontifical Lateran akan menjadi wakil Vatikan dalam program ini.

Ia mengatakan: "Dari pandangan Gereja, proyek ini dimaksudkan untuk menunjukkan kepada agamawan bahwa para ilmuwan bukanlah musuh dan kepada para ilmuwan bahwa agamawan bukan musuh.

"Tujuannya adalah agar kedua pihak bekerjasama bagi kebaikan umat manusia."

Piero Benvenuti dari ASI yakin bahwa kuncinya adalah memahami realitas.

"Ilmu pengetahuan bisa membantu namun tidak mempunyai semua jawabannya, dan kami harus menerima itu," katanya.

Gereja mengatakan jika ada hal-hal yang bisa dibuktikan secara ilmiah, gereja akan menerimanya, jika tidak, iman yang akan berperan, yang berarti ada realitas yang paralel tidak saling bersaing.

"Saya bisa percaya pada Tuhan dan sekaligus menerima teori Einstein bahwa waktu tidak selalu ada," kata Mgr Basti.

Benvenuti setuju dengan kebenaran ganda ini.

Apakah cinta itu ada?

"Saya tidak bisa - sebagai seorang ilmuwan - membuktikan bahwa cinta itu ada namun saya tahu itu ada," katanya.

Vatikan akan mengawasi bagian teologi situs internet itu, ASI akan menangani isi ilmiahnya, termasuk mengenai penerbangan angkasa luar terbaru dari Eropa dan Amerika Serikat.

Hubungan gereja Katolik dengan astronomy sudah dimulai sejak abad ke 16 ketika Paus Gregorius XIII membentuk komite untuk mempelajari data ilmiah yang relevan.

Sejak itu Vatikan terus tertarik dalam bidang riset astronomi.

Observatorium Vatikan yang pertama dibangun di Italia pada akhir abad ke 18.

Pada tahun 1993 proyek Teleskop Teknologi Canggih Vatikan di Gunung Graham di Arizona dirampungkan dan dianggap oleh banyak kalangan sebagai lokasi astronomi terbaik di daratan Amerika Serikat.

Namun tidak selalu demikian.

Seorang pastur Dominikan Giordano Bruno, yang patungnya sekarang ada di pusat kota Roma, dibakar di salib pada tahun 1600 karena mengatakan bahwa alam semesta itu tidak ada batasnya.

Galileo, seorang pakar matematika dan astronom abad ke 17, di ekskomunikasikan oleh gereja karena menyiratkan bahwa bumi mengitari matahari.(bbc.co.uk)

Disadur dari : http://www.mirifica.net/, 21 Februari 2011

Hari Orang Sakit Sedunia Ke 19: Pesan Paus Benediktus XVI

Hari Orang Sakit Sedunia Ke 19:
Pesan Paus Benediktus XVI

Setiap tahun Gereja memperingati Hari Orang Sakit Sedunia pada Hari Peringatan Santa Perawan Maria dari Lourdes 11 Februari. Jika setiap orang adalah saudara, terlebih lagi saudara bagi orang lemah, yang menderita dan yang membutuhkan perhatian, maka mereka harus menjadi perhatian kita. "Suatu masyarakat yang tak mampu menerima para penderita dan tak mampu berbagi derita dengan mereka, berbelas kasih terhadap mereka, adalah masyarakat yang bengis dan tidak manusiawi," (Spes Salvi no.38).

1. Wajah Yesus yang menderita yang terkenal dalam Kain Kafan di Turin, mendorong iman orang sakit untuk percaya. "Oleh bilur-bilur Yesus, kamu telah sembuh. Yesus tidak hanya mengangkat, penderitaan, kesulitan hidup dan dosa-dosa kita, tapi Yesus ingin kita sembuh. Penderitaan dan wafat Yesus tidak mudah dimengerti. Dua orang murid yang berjalan pulang ke Emmaus dengan hati sedih, putus asa karena Gurunya mati disalib. Sampai Yesus bangkit, menampakkan diri di depan mereka. Begitu juga Rasul Thomas sulit menyakini jalan penebusan melalui penderitaan. "Hanya Allah yang mengasihi kita sampai berani menanggung bagi diri-Nya, luka-luka dan penderitaan kita. Allah semacam itulah yang pantas diimani."

2. Tuhan tidak menyingkirkan penderitaan dan kejahatan dari dunia, melainkan Dia telah menaklukkan derita dan kejahatan itu. Menjadi pengikut Kristus, kita harus mempersembahkan hidup kita, jadi pembawa kabar suka cita tanpa takut akan penderitaan. St. Bernardus mengatakan: "Allah tidak dapat menderita, tetapi ia dapat menderita bersama." Yesus yang menjelma jadi Manusia, mau berbagi dan menanggung setiap penderitaan dan sakit penyakit manusia.

3. Seringkali, penderitaan dan salib Yesus menyebabkan ketakutan. Kenyataannya justru berlawanan! Salib adalah jawaban "ya" dari Allah bagi umat manusia. Dari hati Yesus yang terluka, hidup ilahi mengalir. Belajarlah melihat dan menjumpai Yesus di dalam Ekaristi. Itulah caranya mengenal dan melayani Dia yaitu di dalam diri saudara-saudara yang miskin, sakit, menderita dan dalam kesulitan. Mereka butuh bantuanmu.

4. Merenungkan bilur-bilur Yesus, kita arahkan ke Hati Yesus Yang Mahakudus. Hati Suci Kristus yang tersalib, yang lambung-Nya tertikam tombak tembus. Ambilah air dari mata air ini dengan iman dan suka cita sambil berdoa. "Air lambung Kristus, bersihkanlah aku. Sengsara Kristus, kuatkanlah aku. O, Yesus yang baik, dengarkanlah aku. Dalam luka-luka-Mu, sembunyikanlah aku," (doa St.Ignatius Loyola).

5. Santa Perawan Maria, Pelindung Orang Sakit dan Penghibur Orang yang menderita. Sebagai Ibu yang hatinya tertembus pedang, dari jurang penderitaannya, ia dimampukan jadi Ibu Kristus di dalam Gereja. Kasih keibuan Maria menjadi kasih keibuan bagi setiap orang di antara kita dalam penderitaan sehari-hari.

Pada Hari Orang Sakit Sedunia ini, tataplah wajah-wajah orang sakit itu. Dan ketahuilah bagaimana agar dapat melihat dan melayani Wajah Kristus di antara wajah-wajah itu.

Sumber: Internet

Ironi di Tengah Kerukunan Beragama

Ironi di Tengah Kerukunan Beragama

Editor: Jodhi Yudono
Selasa, 8 Februari 2011 | 01:08 WIB

Ilustrasi Penyer
angan Ahmadiyah
Oleh Hanni Sofia

Istora Senayan, Jakarta, Minggu (6/2), gegap gempita. Ratusan orang dari berbagai agama tumpah ruah di gedung olahraga bersejarah itu.
Di antara mereka ada tokoh agama dan tokoh nasional, bahkan utusan PBB pun hadir untuk menghembuskan nafas kerukunan antarumat beragama. Tidak tanggung-tanggung, seluruh dunia.

"The World Interfaith Harmony Week 2011" adalah pesta umat yang disebut Ketua Presidiumnya Din Syamsuddin sebagai Pekan Kerukunan Antarumat Beragama Dunia.
"Semoga acara ini bisa memberikan pesan kepada seluruh umat di Indonesia. Sebagai bangsa yang majemuk, kita tetap menjalin persatuan dan kesatuan sebagai bangsa yang besar," kata Din.

Maksud kegiatan itu, demikian Din, adalah mengakhiri perjalanan panjang pertikaian antaragama dan kekerasan sehingga umat beragama hidup layak dan damai tanpa perang maupun kekerasan.

Namun, kontras dengan seruan mulia itu, muncul ironi dari Pandeglang, Banten yang pada waktu bersamaan malah menodai acara agung tersebut.

Siapapun tidak menginginkan kerukunan beragama ternodai oleh bentrok mengatasnamakan agama, apalagi itu terjadi tepat di tengah perayaan kerukunan umat sedunia.

Seribuan warga Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, Banten, menyerang jamaah Ahmadiyah di Desa Umbulan di kecamatan itu, Minggu, atau hari di mana perhelatan mulia di Gelora Senayan diadakan.

Sekitar pukul 10.30 WIB atau hampir bersamaan dengan acara yang mengagungkan kerukunan dibuka atau saat barongsai perlambang penghormatan terhadap masyarakat Tionghoa digelarkan untuk membuka acara itu, bentrok berdarah pecah di Cikeusik.
Kepala Polres Pandeglang AKBP Alex Fauzy Rasyad menyatakan, serangan terhadap jamaah Ahmadiyah dipicu oleh pernyataan bernada menantang dari anggota jamaah Ahmadiyah kepada warga setempat.

Pada peristiwa itu, sejumlah orang dikabarkan tewas, meski jumlahnya masih belum dipastikan karena polisi belum bersedia mengumumkannya.

Namun Sekretaris Kecamatan Cikeusik, Najmudin, menyebut tiga anggota jamaah Ahmadiyah meninggal dunia dalam bentrokan itu. Sedangkan tokoh masyarakat di sekitar situ, Lukman, menyebut enam orang anggota jamaah Ahmadiyah meninggal akibat bentrokan.

Ketua Presidium Inter-Religious Council Indonesia, Din Syamsiddin, sebagai penyelenggara acara di Istora Senayan, menolak mengomentari bentrok berdarah itu.
"Saya belum mendapatkan informasi yang jelas mengenai hal itu. Hal itu juga lebih merupakan wilayah MUI (Majelis Ulama Indonesia)," kata Din yang juga Wakil Ketua Umum MUI Pusat itu.
Bentrok di Cikeusik itu bukan yang pertama kalinya. Sebaliknya, rentetan peristiwa serupa terekam baik dalam sejarah kerukunan umat beragama di Indonesia.

Terus terulang

Rekam jejak ribut pengikut Ahmadiyah dengan masyarakat yang berujung bentrok berdarah hampir terjadi setiap tahun. Setengah tahun lalu, keributan serupa terjadi Desa Manislor, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Aang Suganda, Bupati Kuningan waktu itu mengatakan, keributan serupa itu kerap terjadi di wilayahnya.
"Apalagi menghadapi bulan Ramadan. Biasanya ini sering terulang," katanya.
Menurut Aang, pemerintah kabupatennya sudah menempuh berbagai upaya untuk meredam bentrokan, bahkan pada 2004 sudah mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) dengan beberapa instansi lain. SKB itu sampai ditandatangani juga oleh Kepala Kejaksaan Negeri dan Kantor Kementerian Agama. Setelah SKB dikeluarkan pada 2004, hasil akhirnya bisa dituai. Keributan bisa diredam, sampai akhirnya muncul aksi penyegelan masjid jamaah Ahmadiyah pertengahan 2010 yang menyulut bentrok massa.

Waktu itu, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto bahkan menginstruksikan langsung aparat keamanan untuk mengambil langkah pencegahan sebelum entrok serupa di kemudian hari.

Dalam monolognya pada Pekan Kerukunan Antarumat Beragama Sedunia, seniman Butet Kartaraharja menilai bentrok di Banten itu ancaman terhadap kerukunan beragama di Indonesia. Yang sangat memukul Butet itu adalah peristiwa terjadi justru ketika semua umat menggelar Pekan Kerukunan Antarumat Beragama Sedunia. Butet mempertanyakan polisi yang disebutnya membiarkan umat beragama di Indonesia tidak teguh menjalankan ibadahnya. Butet juga mengingatkan pemerintah. "Dengan semangat kerukunan beragama, saya ingatkan kepada pemerintah agar jangan bohong bahwa kerukunan kita dalam ancaman bahaya," katanya. Dalam situasi seperti itu, demikian Butet, ada dua hal cukup penting yang perlu ditegaskan bangsa ini, yakni kehidupan berbangsa dan beragama. Dan ia menawarkan persoalan itu diselesaikan atas dasar toleransi beragama, bukan toleransi politik atau lainnya. "Toleransi beragama adalah toleransi yang bertujuan untuk membangun kemaslahatan semua umat beragama supaya tercipta kerukunan," katanya.

Dalam kerangka ini, ketokohan agamawan, sebut Butet, menjadi inspirasi untuk menyelesaikan masalah itu. (*)

Sumber : Compas Com

POHON NATAL DAN LEGENDA BONIFASIUS

POHON NATAL DAN LEGENDA BONIFASIUS

Kisah kelahiran Yesus diceriterakan dalam Injil. Namun Injil tak bicara soal perayaan Natal. Tradisi Natal, termasuk Pohon Natal, baru muncul kemudian. Sebagian tradisi Natal diambil alih dari tradisi kafir. Haruskah kita menolaknya?

Sekitar tahun 1600-an, perayaan Natal pernah dilarang resmi di Inggris dan di beberapa negara koloninya. Pasal-nya, hari raya Natal dianggap sebagai hari raya orang kafir. Hal ini terutama karena pengaruh pandangan Protestan pada masa itu. Kendati dilarang, masyarakat yang sudah terlanjur cinta perayaan Natal, tak bisa dibendung untuk tetap merayakannya. Dan pesta ini tetap berlangsung hingga kini.

Hari Raya Natal sebagai perayaan kristiani dan hal-hal yang berkaitan dengan tradisi Natal, sampai hari ini masih diperdebatkan oleh sekelompok kecil orang. Beberapa orang non-kristiani malah sempat melontarkan tuduhan pembohongan publik berkaitan dengan Natal. Salah satu tradisi yang tergolong baru adalah Tradisi Pohon Natal. Kebiasaan yang sudah amat popular inipun masih sering dipertanyakan orang. Aliran Gereja tertentu malah mengharamkan tradisi ini.

Amat Digemari.

Injil Lukas menceriterakan kisah kelahiran Yesus lengkap dengan kisah malaikat dan gembala-gembala. Sementara Matius menceriterakan tiga orang bijak dari Timur yang berjalan mengikuti bintang terang yang menunjukkan dimana Yesus berada. Injil menyebutkan bahwa Yesus lahir pada jaman Herodes berkuasa, namun tidak menulis tanggal persis kelahiran-Nya. Injil juga tak pernah menulis tentang kebiasaan merayakan hari kelahiran Yesus.

Natal atau Perayaan kelahiran Yesus baru mulai tercantum dalam kalender Romawi pada tahun 336, atau 300 tahun lebih sesudah kematian Yesus. Tanggal 25 Desember yang ditetapkan sebagai Hari Raya Natal, pada awalnya merupakan perayaan hari kelahiran dewa matahari. Orang kristiani yang menyebut Kristus sebagai Terang Dunia mengambil alih pesta ini sebagai hari Natal, kelahiran Yesus.

Perayaan Natal nampaknya cepat digemari umat kristiani. Pada tahun 1100 Natal sudah menjadi perayaan keagamaan paling penting di Eropa. Seiring dengan hal itu muncul juga pelbagai tradisi yang berkaitan dengan Natal. Santo Fransiskus, misalnya, memulai tradisi membuat kandang Natal pada tahun 1223. Waktu itu ia membuat dekorasi kandang Natal di Gereja Greccio dekat Asisi, Italia. Pada mulanya, ia hanya meletakkan tiga tokoh Natal, yaitu Yesus, Maria dan Yosef di dalam kandang. Pada tahun-tahun selanjutnya ia menambahkan tokoh-tokoh lain seperti para gembala, hewan ternak, Tiga Raja dari Timur dan malaikat. Kini tradisi ini dikenal hampir di seluruh dunia.

Pohon Natal dan Legenda St. Bonifasius.

Salah satu tradisi yang juga dikenal luas adalah tradisi pohon Natal. Pohon Natal biasanya berupa pohon cemara (asli maupun plastik) dihias dengan lampu warna-warni serta segala pernak-perniknya. Tradisi ini mulai di negeri Jerman pada abad ke-16. Menurut legenda, Santo Bonifasius suatu hari bertemu sekelompok orang yang akan mempersembahkan seorang anak kepada dewa Thor di sebuah pohon oak. Untuk menghentikan perbuatan jahat itu, secara ajaib Bonifasius merobohkan pohon oak dengan pukulan tangannya. Di tempat pohon oak yang roboh itu tumbuhlah sebuah pohon cemara. Bonifasius menganggap pohon cemara tersebut sebagai lambang iman kristiani. Dari legenda inilah kemudian lahir tradisi pohon Natal.

Sebelum berkembang dalam tradisi kristiani, pohon cemara sudah lama digunakan dalam perayaan keagamaan oleh bangsa Romawi. Pohon ini digunakan dalam perayaan peringatan kelahiran dewa matahari. Mereka menghiasi pohon cemara dengan hiasan-hiasan serta topeng-topeng kecil. Pohon cemara dipakai antara lain karena memiliki makna simbolik.

Pada musim dingin, ketika daun-daun pohon mulai menguning dan kemudian berguguran, pohon cemara tetap hijau daunnya. Karenanya pohon cemara yang evergreen, selalu hijau ini dianggap cocok melambangkan kehidupan yang terus menerus. Makna ini juga cocok dengan keyakinan hidup kekal dalam agama kristiani. Makna simbolik pada gilirannya makin memperkokoh keberadaan tradisi pohon Natal kristiani.

Dari Jerman, tradisi pohon Natal menyebar ke berbagai tempat lain. Ketika Ratu Viktoria dari Inggris menikah dengan Pangeran Albert dari Jerman (10/02/1840), tradisi pohon Natal ini dengan cepat menjalar juga di Inggris. Ratu Viktoria memang amat menyukai tradisi ini. Pada akhir abad ke-19, tradisi pohon Natal praktis sudah dikenal luas dimana-mana. Industri yang memproduksi hiasan berupa pohon Natal makin mempopulerkan tradisi ini. Salah satu Pohon Natal yang terkenal adalah yang ada di Rockefeller Centre, New York karena amat besar dan menarik. Pohon Natal yang dipasang di lapangan Santo Petrus, Vatikan, juga menarik karena tingginya. Indonesia dan Filipina yang amat terpengaruh tradisi Barat menyukai tradisi pohon Natal. Namun tidak semua tempat menyukai pohon Natal. Di Afrika Selatan, keberadaan pohon Natal kurang dikenal; sementara masyarakat India lebih memilih pohon mangga dan pohon pisang daripada cemara.

Kerinduan Manusia.

Pohon cemara yang evergreen, selalu hijau, adalah lambang kehidupan yang terus berlangsung, abadi. Pohon Natal sering juga disebut Pohon Terang karena penuh dengan cahaya benderang. Dalam Kitab Suci, terang acapkali digunakan sebagai simbol kehidupan surgawi, bersih tanpa dosa. Sebaliknya, kegelapan adalah lambang kehidupan yang penuh dengan gelimang dosa.

Pohon Natal sepertinya menyentuh hati umat manusia karena memiliki makna simbolik yang pas. Pohon Natal seolah-olah menyiratkan kerinduan manusia akan dunia surgawi, dunia yang damai dimana segala sesuatu adalah anugerah dan rahmat. Merayakan Natal tanpa Pohon Natal bukanlah sesuatu yang penting. Namun, merayakan Natal tanpa kerinduan hati akan perdamaian, barulah sesuatu yang patut dipertanyakan. Selamat Natal.

Heri Kartono,OSC (Dimuat di Majalah Fraternite edisi Desember 2007)
Disadur dari http://batursajalur.blogspot.com/2008/11/tradisi-pohon-natal.html

Pendidikan Agama Katolik untuk Siswa di Sekolah Non Katolik.

PENDIDIKAN IMAN KATOLIK SISWA-SISWI
Pendidikan iman Katolik bagi anak-anak yang sekolah Negeri atau swasta bukan katolik, tanggungjawab siapa?


"Seringkali terjadi anak-anak sudah berpisah dari orang tuanya atau keluarganya demi melanjutkan pendidikan. Mereka terpaksa tidak lagi satu rumah dengan orangtua mereka, dan orang tuapun ‘terpaksa’ melepas anak-anak mereka demi sekolah di tempat lain. Hal ini tentu demi pendidikan dan masa depan anak. Hanya seringkali yang memprihatinkan adalah pendidikan iman anak-anak. Pada umumnya di daerah pedesaan, anak-anak tinggal di tempat kost atau kost di rumah orang atau keluarga yang bukan katolik. Tentu hal ini akan berdampak bagi pendidikan dan penghayatan iman katolik anak. Kerap terjadi anak-anak menjadi ‘terikut’ dengan iman tempat mereka kost. Belum lagi pada umumnya anak-anak yang melanjutkan sekolah di sekolah Negeri, seringkali tidak ada pendidikan atau guru agama katolik, sehingga anak-anak Katolik digabung dengan anak-anak dari Gereja lain, dan mereka mengikuti pendidikan agama Protestan. Tetapi anehnya, ketika ujian akhir kepada mereka disuguhi ujian materi agama katolik. Selama pendidikan mereka mendapat pendidikan agama protestan, tetapi ketika ujian mereka diberi materi Katolik, tentu merepotkan mereka, sehingga tentu nilai agama dalam rapot jadi jelek. Pihak sekolah sendiri nampaknya tidak peduli dengan hal ini, dan seakan-akan tidak peduli dengan iman anak-anak katolik. Seringkali alasan yang diberikan adalah karena anak-anak katolik jumlahnya sedikit sehingga ‘rugi’ mencari guru honor untuk pendidikan agama Katolik untuk anak-anak yang katolik. Memang di sisi lain, seringkali kita kesulitan dalam tenaga pendidikan agama katolik untuk sekolah-sekolah di pedesaan. Sekarang ini orang berlomba-lomba mengajar di perkotaan. Saya rasa bukan karena tidak banyak lulusan dari sekolah pendidikan agama katolik, tetapi mungkin mereka hanya mengkhususkan diri mendidik anak-anak perkotaan.
Hal lain yang dapat kita temui adalah bahwa kalaupun di sekolah tertentu ada pendidikan agama Katolik dan ada gurunya, tetapi seringkali pendidikan agama hanya sebagai sampingan, sambilan dibandingkan dengan kurikulum lain. Sering kami temua bahwa pendidikan agama katolik dilakukan pada jam-jam kosong saja, misalnya hari tertentu setelah jam pelajaran selesai. Hal ini tentu kurang mendukung dan kurang baik, Karena anak-anak sudah lapar, lelah dan seharusnya sudah pulang tetapi ‘seakan terpaksa’ mengikuti pelajaran agama Katolik. Ada pula yang terjadi mereka disatukan dalam suatau ruangan ‘aula’ atau sebenarnya bukan local yang layak untuk tempat pembelajaran. Semuanya ini, tanpa sadar menanamkan kepada benak anak, bahwa pendidikan Agama Katolik itu hanya sambilan, hal yang kurang penting, bukan suatu kebutuhan dalam hidup.
Demikian kiranya gambaran singkat dari situasi pendidikan Agama Katolik bagi anak-anak kita yang menjalani pendidikan di sekolah sekolah negeri dan mereka tinggal kost. Apakah orang tua pernah mempertimbangkan dan memikirkan hal ini? Orang tua kerapkali kurang memperhatikan hal ini, mereka hanya taunya anaknya sekolah. Apakah pendidikan agama mereka terjamin atau tidak, mereka kurang perhatian. Anak-anak yang sekolah di sekolah yayasan Katolik, mungkin hal ini kuran menjadi persoalan. Persoalan ini seringkali ada bila anak-anak sekolah di sekolah negeri. Selain kenyataan itu, bisa dikatakan hampir semua anak-anak yang melanjutkan sekolah di sekolah negeri dan tinggal kost, tidak ke Gereja pada hati Minggu. Jadi komplit sudah keprihatinan atas pendidikan iman Katolik anak-anak kita. Ini tanggungjawab siapa? Dari kenyataan ini, kita tidak usah heran bila kita tidak memiliki banyak Generasi Gereja kita yang militant. Kita juga tidak usah heran bila banyak anak-anak katolik yang akhirnya berpaling ke agama atau ke gereja lain. Ini adalah keprihatinan kita bersama.
Atas dasar inilah, makanya di paroki Tigalingga diadakan misa khusus untuk siswa-siswa Katolik yang sekolah di negeri. Kegiatan itu diadakan setiap Sabtu malam pada akhir bulan. Pesertanya adalah anak-anak katolik dari SMP Negeri 1, SMP Swasta Nusantara, SMA negeri 1 dan SMA Swasta Nusantara. Kegiatan ini baru dimulai dan sampai saat ini, banyak anak yang hadir, walaupun belum semuanya. Kegiatan yang diadakan adalah Misa bersama di Gereja dan setelah itu diadakan pembinaan atau menonton bersama di Aula paroki. Anak-anak yang kost, menginap di Aula paroki. Paroki bersama guru agama mereka masih mencoba dan berusaha mencari format yang pas, sehingga anak-anak mempunyai kerinduan untuk berkumpul dan juga pembinaan dan pendidikan Iman Katolik yang tidak mereka dapatkan, mereka peroleh dalam kegiatan tersebut. Kami mencoba dan akan berusaha. Kami yakin pengalaman ini, juga pasti dailami para orang tua dan terjadi di paroki-paroki lain. Sehingga lewat coretan ini, kami hanya mau berbagi dan sekaligus mengajak kita bermenung bersama sehubungan dengan pendidikan agama katolik bagi generasi Gereja kita. Sekian, semoga Tuhan memberkati kita semua.

 
Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan! (2Kor 8:14)